لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْك

Mengapa Sebatang Tiang di Masjid Nabawi Bisa Menangis? Inilah Kisah Ustuwanah Hannanah

SYIAR Travel — Di dalam Masjid Nabawi terdapat banyak titik bersejarah yang menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Salah satu yang paling mengharukan adalah Ustuwanah Hannanah, yaitu tiang yang dikenal dalam riwayat sebagai “batang kurma yang menangis” karena berpisah dengan Rasulullah ﷺ.

Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, tetapi juga termasuk salah satu mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih. Banyak jamaah umrah melewati lokasi ini tanpa mengetahui bahwa di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa yang menggugah hati para sahabat.

Awal Mula Kisah Ustuwanah Hannanah

Pada masa awal pembangunan Masjid Nabawi, Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan khutbah sambil bersandar pada sebatang batang pohon kurma. Batang tersebut menjadi tempat beliau bertumpu ketika memberikan nasihat kepada para sahabat.

Seiring bertambahnya jumlah kaum muslimin, para sahabat mengusulkan agar dibuatkan mimbar sehingga Rasulullah ﷺ dapat terlihat lebih jelas ketika berkhutbah. Usulan itu diterima, lalu dibuatlah mimbar sederhana dengan tiga anak tangga.

Namun, ketika Rasulullah ﷺ pertama kali meninggalkan batang kurma itu dan berkhutbah dari atas mimbar, terjadi peristiwa yang luar biasa.

Batang Kurma Itu Menangis

Para sahabat mendengar suara tangisan yang berasal dari batang kurma tersebut. Suaranya begitu jelas hingga memenuhi masjid.

Dalam hadis sahih disebutkan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَى شَجَرَةٍ أَوْ نَخْلَةٍ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَوْ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا نَجْعَلُ لَكَ مِنْبَرًا؟ قَالَ: «إِنْ شِئْتُمْ». فَجَعَلُوا لَهُ مِنْبَرًا، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِيِّ، فَنَزَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَضَمَّهَا إِلَيْهِ، تَئِنُّ أَنِينَ الصَّبِيِّ الَّذِي يُسَكَّنُ، فَقَالَ: «كَانَتْ تَبْكِي عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ عِنْدَهَا»

Artinya:

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ dahulu berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma. Kemudian dibuatkan mimbar untuk beliau. Ketika beliau berpindah ke mimbar, batang kurma itu menangis seperti tangisan seorang anak kecil. Rasulullah ﷺ lalu turun dan memeluknya hingga tenang. Beliau bersabda, “Batang itu menangis karena kehilangan dzikir yang biasa didengarnya di sisinya.”

(HR. Al-Bukhari No. 3584)

Mengapa Disebut Ustuwanah Hannanah?

Kata “Hannanah” berasal dari bahasa Arab الحنانة, yang bermakna “yang merintih” atau “yang menangis karena rindu”.

Dalam tradisi sejarah Masjid Nabawi, lokasi batang kurma tersebut kemudian dikenal sebagai Ustuwanah Hannanah (Tiang Hannanah). Tiang yang ada saat ini bukanlah batang kurma asli, melainkan penanda lokasi peristiwa bersejarah tersebut setelah Masjid Nabawi mengalami berbagai perluasan.

Pelajaran Berharga bagi Kaum Muslimin

Peristiwa Ustuwanah Hannanah menunjukkan betapa agungnya kedudukan Rasulullah ﷺ di sisi Allah. Bahkan benda mati pun diberi kemampuan oleh Allah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 44)

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh makhluk berada dalam ketundukan kepada Allah, meskipun manusia tidak selalu mampu memahami bagaimana mereka bertasbih atau mengekspresikan penghambaan mereka.

Jejak Sejarah yang Menghidupkan Keimanan

Bagi jamaah yang berkesempatan mengunjungi Masjid Nabawi, mengenal kisah Ustuwanah Hannanah dapat menambah kekhusyukan saat berada di Raudhah dan area sekitarnya. Tempat ini bukan sekadar bagian dari bangunan masjid, tetapi juga saksi bisu salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ yang diabadikan dalam hadis-hadis sahih.

Kisah batang kurma yang menangis menjadi pengingat bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan mengikuti sunnah, memperbanyak shalawat, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

 

Umrah Plus Mesir
Private Umrah
Umrah Plus Turki
Umrah Reguler

Continue Reading